Peluang Usaha Warung Nasi di Kampung dan Penyebab Kebangkrutannya

Halo sobat pembaca semuanya. Kali ini saya akan berbagi mengenai peluang usaha bisnis warung nasi di kampung atau di desa. Ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Saya akan cerita dari sebuah kegagalan usaha warung nasi mertua saya, kemudian nanti akan saya rangkum poin-poin mengapa usaha warung nasi tersebut gagal? Mengapa bangkrut? Apa saja penyebab bangkrutnya usaha warung nasi tersebut? Nah, dari beberapa pertanyaan di atas, nanti saya akan coba jelaskan penyebab dan bagaimana solusinya. Semoga bisa menjadi bahan pembelajaran bagi sobat yang sekarang sedang atau akan menekuni bisnis warung nasi ini agar lebih siap lagi.


Studi Kasus dari Warung Nasi Mertua Saya

Waktu itu sekitar tahun 2015. Saat itu mertua saya berniat membuat sebuah warung nasi di pinggir jalan kampung. Kebetulan ia memiliki warisan sebidang tanah pinggir jalan dari orangtuanya. Mertua saya ini jago masak, masak apapun dia bisa. Walaupun ada beberapa masakan yang menurut lidah saya kurang pas atau kurang enak. Ssst… jangan bilang-bilang ya, hehehe…

Nah, singkat cerita tanpa pikir panjang dibangunlah sebuah warung di sana. Warungnya semi permanen lho. Jadi bagian bawahnya beton pake pondasi, terus ke atasnya pake semacam GRC board kaya gitu, dan atapnya pake spandek. Lumayan bagus dan kokoh untuk sebuah warung pemula. Bahkan saat itu saya disuruh bikin semacam spanduk dan logo ke percetakan untuk dipajang di depan warungnya, harganya 400 ribu karena lumayan besar. Nama warung nasinya saat itu kalo gak salah “SARIMBIT”. Nah, mulailah mertua saya berjualan di sana. Menunya antara lain: nasi putih, ayam goreng, ikan goreng, pecel lele, plus lalap-lalapan, mendoan dan sambal, ada juga minuman seperti kopi, teh manis dll.

Contoh menu makanan di warung nasi
Contoh menu makanan di warung nasi

Pas awal-awal buka sih lumayan laris, banyak orang yang datang ke sana untuk makan, ditambah lagi karena di sana ada sebuah pabrik pengolahan kayu yang lumayan besar, jadi banyak karyawan pabrik yang makan atau sekedar membeli lauk untuk dibawa pulang. Maklum mereka kebanyakan orang luar daerah yang kost di sekitar situ. Banyak juga para tetangga yang datang untuk membeli, mungkin kebanyakan dari mereka penasaran dengan warung nasi baru.

Nah, dalam waktu 3 bulan itu usaha warung nasi mertua saya terbilang laris manis, tiap hari ada saja yang datang untuk makan. Saya dan istri (anaknya mertua) juga waktu itu sering main kesana dan sering ditawari makan. Dan pas saya makan, jujur saja, saya rasa gak ada yang spesial dengan masakannya. Terasa biasa-biasa saja. Menurut saya lebih enak di warung nasi lain. Bukan maksud untuk menghina, namun yah memang begitu kenyataannya.


Bangkrutnya Warung Nasi Sang Mertua

Hari demi hari pun berlalu, usaha warung nasi mertua saya semakin sepi. Tetangga kampung yang biasanya datang ke sana kini sudah makin jarang. Mungkin mereka lebih suka masak sendiri di rumah ketimbang membeli dari warung nasi yang harganya memang cukup mahal untuk harga di kampung. Karyawan pabrik pun kian hari kian jarang untuk datang dan makan. Alhasil, warung nasi mertua saya waktu itu mengalami kerugian. Banyak makanan yang basi dan tak terjual, ikan dan ayam banyak numpuk di kulkas dan akhirnya sempat sebagian sampai membusuk karena gak keburu dimasak. Belum lagi biaya untuk membuat warung yang terbilang cukup banyak saat itu belum bisa balik modal. Nah, 6 bulan kemudian akhirnya tutuplah warung nasi mertua saya itu. Dan sekarang warung itu telah dijual kepada orang lain beserta tanahnya dan dibuat warung kelontongan oleh pemilik barunya.

Baca juga: 10 Peluang Usaha di Kampung dengan Modal Kecil dan Sangat Menguntungkan

Oke, setelah membaca cerita pahit di atas, setidaknya ada 6 poin yang menjadi penyebab bangkrutnya usaha warung nasi mertua saya tadi berdasarkan pengamatan saya.


1. Bisa masak bukan berarti bisa menjual

Jika kita bisa atau hobi dalam melakukan sesuatu, belum tentu bisa bernilai jual. Nah, kebanyakan kegagalan usaha warung nasi bermula dari sini lho. Misalnya kita “bisa” masak rendang. Itu hanya sekedar “bisa” saja kan? Kalau menurut diri kita sendiri sih biasanya rasanya enak-enak saja karena itu hasil jerih payah sendiri dan karena didorong dengan rasa bangga “bisa” masak rendang. Tapi menurut orang lain? Belum tentu masakan rendang kita itu disukai dan pas di lidah mereka. Solusinya, mintalah pendapat orang lain dulu tentang masakan kita, mintalah testimoni sebanyak-banyaknya dari mereka. Mintalah pendapat yang jujur tentang masakan kita kepada keluarga, teman dan tetangga. Lakukan riset ini sebelum melakukan usaha warung nasi ini. Lebih baik menyediakan modal untuk riset di awal dulu ketimbang langsung buka usaha, supaya tidak merugi di kemudian hari.


2. Terlalu cepat membangun sebuah tempat / warung yang bagus

Ini dia kesalahan kedua mertua saya yang saya nilai cukup fatal. Beliau keburu nafsu untuk membuat sebuah tempat ketimbang melakukan riset seperti yang diuraikan pada poin nomor 1 tadi. Membuat tempat permanen sih harus, tapi sebaiknya bukan pada tahap awal. Jika kita memiliki tempat kosong di teras depan rumah, kita tak perlu membangun warung dulu. Cukup membeli spandek saja untuk membuat atap yang dikaitkan ke atap rumah. Itu akan jauh lebih murah biayanya dan tidak akan menghabiskan modal yang besar hanya untuk sebuah tempat. Nah, ke depannya kalau warung nasi kita ini makin lama makin laris dan kekurangan tempat, barulah menambah ukurannya atau mungkin membuat tempat yang baru. Itu pun yang biasa-biasa saja dulu. Kecuali kalau kita punya modal besar, ya silahkan saja. Tapi menurut saya tempat bukan hal yang utama. Apa gunanya memiliki tempat yang mentereng kalau sepi pembeli? Lagipula orang kadang melihat tempatnya dulu, kalo terlalu bagus itu biasanya mahal harganya, tidak cocok untuk dompet orang kampung. Alhasil mereka batal membeli. Apalagi kalau masakannya tidak enak.


3. Lokasi warung kurang mendukung

Ini juga tak kalah pentingnya. Lokasi yang strategis akan mendukung larisnya usaha warung nasi kita. Carilah lokasi yang dilalui banyak orang lewat, misalnya di pinggir jalan, di dekat kampus atau sekolah, di dekat perusahaan atau pabrik atau di tempat lain yang jauh dari keramaian namun memiliki suasana alam yang nyaman dan indah, ini akan menjadi daya tarik. Saya yakin akan ada saja pembeli. Apalagi kalau orang merasa puas dan nyaman, dijamin meskipun jauh pasti mereka datang lagi. Namun lokasi kan relatif, tidak semua orang bisa membeli lahan atau memiliki lokasi yang strategis. Jadi menurut saya ini tidaklah wajib. Toh banyak juga warung nasi yang buka di tempat sepi, pinggir sawah bahkan sampai masuk ke gang tapi mereka tetap ramai pembeli.

Tapi kalau melihat dari kasus warung nasi mertua saya tadi, penyebab utamanya bukan ini lho. Ayo coba tebak apa penyebabnya? Hehehe…


4. Rasa dan kualitas masakan kurang

Nah, ini yang sangat amat penting, dan poin ini juga yang menurut saya menjadi penyebab utama bangkrutnya usaha warung nasi mertua saya. Sudah saya ulas sejak awal bahwa masakan mertua saya ini kurang pas di lidah saya, dan mungkin sama halnya dengan di lidah orang lain. Intinya kurang enak. Kurang enak bukan berarti gak enak, tapi masih lebih enak di tempat lain. Coba sekarang saya akan bertanya, sobat lebih memilih makan dengan harga Rp20.000 tapi puas atau dengan harga Rp15.000 tapi gak puas? Ya pasti lebih memilih makan yang lebih mahal sedikit tapi enak kan? Kecuali memang kita sedang defisit dompet, hehehe… Nah, jadi kesimpulannya dalam membuka usaha warung nasi ini sebaiknya yang diutamakan adalah rasa, kualitas dan kepuasan pembeli.


5. Penetapan harga yang terlalu mahal

Ini juga tak kalah penting tapi menurut saya ini tidak begitu fatal. Harga mahal kalau sebanding dengan rasa dan kualitas sih tidak masalah. Yang jadi masalah, jika harga mahal tapi rasa kurang memuaskan. Ini yang lambat laun akan menjadi bumerang yang membuat meruginya usaha warung nasi kita di kemudian hari. Namun saran saya, jika kita memulai usaha baru apalagi di kampung, jangan mematok harga yang mahal dulu, yang penting bisa balik modal saja. Tidak apa-apa untung sedikit tapi laris. Anggaplah itu sebagai promosi usaha baru kita ini. Mulailah dengan harga yang murah dulu yang sesuai dengan harga di kampung pada umumnya. Nah, barulah seiring berjalannya waktu kita bertahap menaikkan harga, toh harga bahan juga biasanya lambat laun mengalami kenaikan. Dan kita juga sebagai konsumen biasanya memilih yang lebih murah bukan? Walaupun beda harga sedikit, tapi akan menjadi daya tarik untuk datang, apalagi kalau pelayanannya memuaskan.


6. Menu makanan yang monoton

Poin terakhir ini juga penting tapi tidak fatal. Menu masakan yang beragam tentunya akan lebih menarik minat pembeli, namun kita sebagai pemilik warung juga perlu merogoh biaya yang lebih untuk membeli bahan yang beragam pula. Untuk mengatasi hal tersebut kita mesti melakukan survey dulu. Cobalah kita datangi warung nasi di sekitar kita, misalnya dalam radius 5 km dari tempat kita. Kita lihat menu masakan mereka, apa saja yang dijual di sana. Coba rasakan apa kelebihan dan kekurangannya, bandingkan juga dengan harganya.

Nah, setelah itu kita akan memperoleh gambaran tentang menu apa yang nanti akan dijual di warung nasi kita. Saran saya sih buatlah menu yang berbeda dengan warung nasi lain, supaya konsumen memiliki banyak pilihan. Jadi kalau pembeli bosan dengan menu di warung nasi lain, mereka akan datang ke warung nasi kita karena memiliki menu masakan yang berbeda. Kecuali kalau kita bisa bersaing dalam hal rasa dan harga, boleh-boleh saja sih menu masakannya meniru atau sama. Tapi saya rasa ini cukup sulit untuk pemula.

Baca juga: Tips Membuka Usaha Warung di Kampung Agar Laris dan Tidak Kalah dengan Pesaing

Begitulah gambaran umum peluang usaha warung nasi di kampung dan penyebab kebangkrutannya. Semoga bisa memberikan infomasi yang berguna bagi pembaca semuanya. Ingatlah, setiap usaha tidak ada yang berjalan mulus, ada saja resikonya. Pesan saya, jangan patah semangat! Kegagalan adalah langkah awal dari kesuksesan, yang penting kita bisa memperbaiki penyebab kegagalan tadi.

Jangan lupa share link artikel ini kepada teman-teman yang lain, barangkali mereka ada yang membutuhkan informasi ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih telah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *