Cerita Hantu Arwah Penasaran Tukang Bajigur

Cerita seram bertemu hantu tukang bajigur gentayangan ini dialami oleh Mang Ajat, tetangga sekaligus tim ronda penulis di kampung.

Saat itu malam Jumat kira-kira pukul 9 malam, seperti biasa Mang Ajat sudah keluar dari rumahnya menuju pos ronda, karena memang malam itu adalah jadwal ia ngeronda bersama 3 orang rekannya. Posisi pos ronda ini berada di depan rumahnya, terletak di pinggir jalan kampung yang berseberangan dengan areal pesawahan yang cukup luas. Jadi kampung kami ini kalo dilihat dari atas itu dikelilingi areal pesawahan serta jalan desa yang mengitari kampung.

Sebelah kiri pos ronda terdapat sebuah warung kecil yang biasa buka sampai malam, pemiliknya bernama Mak Icih, seorang janda tua yang sudah sejak dulu ngebuka usaha warung kecil-kecilan di depan rumahnya. Warungnya ini langganan kami, terutama saat melakukan tugas ronda. Kami biasa memesan kopi dan cemilan, seperti pisang goreng, bakwan, gehu, dsb untuk menemani kami saat ngeronda. Selain kopi, Mak Icih juga menyediakan nasi dan lauk, jadi kami pun bisa makan di sana dengan lauk ala kampung seadanya.

Oke, lanjut ke cerita… Malam itu udara sangatlah dingin karena sejak tadi sore hujan tak kunjung berhenti, dan saat itu pun masih turun gerimis. Mang Ajat dengan sarung warna cokelatnya tampak berjalan menuju pos ronda. Namun saat itu tim ronda beliau belum ada satu pun yang hadir. Mungkin karena masih sore, pikir Mang Ajat. Karena kedinginan, akhirnya Mang Ajat memutuskan untuk ngopi dulu di warung Mak Icih sambil menunggu teman rondanya pada datang.

Warung Mak Icih kebetulan buka saat itu, Mang Ajat lalu duduk pada sebuah bangku dari bambu di depan warung. Terdengar suara televisi tengah menyiarkan acara Dunia Dalam Berita saat itu. Televisi hitam putih 14 inchi itulah yang selalu menemani Mak Icih saat sedang berada di warung.

“Mak, kopi satu mak… jangan terlalu manis…”, ucap Mang Ajat sambil nengok sana sini berharap ada anggota tim rondanya yang datang.

“Maaak… kopi maaak….”, ucap Mang Ajat agak keras, ia tahu Mak Icih sudah agak tuli karena usianya yang sudah menginjak kepala delapan.

Namun saat itu tidak ada jawaban, dan saat dilihat ke dalam warung, Mak Icih memang tidak berada di sana, hanya televisinya saja yang sejak tadi menyala.

“Kemana si Emak ya? Oh mungkin lagi balik dulu ke rumahnya…”, pikir Mang Ajat.

Warung Mak Icih ini berdiri terpisah dengan rumah, posisi warungnya itu berada di halaman rumahnya, di tepi jalan.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 malam. Tiba-tiba dari arah jalan sebelah utara terdengar suara gelas yang dipukul-pukul, “TENG TENG TENG…”.

Mang Ajat lalu menoleh ke arah datangnya suara, dan saat itu dari kejauhan tampak ada seberkas cahaya lilin yang berjalan. Semakin dekat semakin terlihat cahaya lilin itu berasal dari sebuah gerobak dorong.

“Tukang dagang apaan tuh?”, pikir Mang Ajat sambil terus menatap ke arah gerobak tadi.

Setelah dekat gerobak itu pun berhenti tepat di depan pos ronda. Karena penasaran, Mang Ajat pun menghampirinya. Tampak ada seorang bapak-bapak berdiri menunduk mengenakan topi sambil memegang gerobaknya. Namun saat itu wajahnya tidak terlihat jelas karena gelap. Dari cahaya lampu temaram pos ronda, terlihat di gerobaknya tertulis “BAJIGUR ATENG”.

Setelah tau yang datang adalah tukang bajigur, Mang Ajat sangat senang sekali, karena malam-malam dingin seperti itu memang cocok sekali minum bajigur hangat. Aroma jahe dan wangi daun pandan pun mulai tercium.

*** Bajigur adalah salah satu minuman tradisional yang terbuat dari air santan kelapa, gula aren, jahe merah dan daun pandan. Tak jarang ditambahi kolang-kaling sebagai pelengkap ***

*****

“Wuih, jualan bajigur mang? Kebetulan sekali. Pesen satu gelas yang panas ya mang!”, ucap Mang Ajat sambil duduk di pos ronda karena saat itu hujan tiba-tiba gerimis lagi.

Tanpa menjawab sepatah kata pun, si tukang bajigur segera mengambil gelas dan menuangkan bajigur ke dalamnya. Uap air panas mengepul ke atas saat ia membuka tutup dandangnya.

Mang Ajat kala itu beberapa kali menelan air liur karena memang sudah sejak lama ia tidak pernah minum bajigur yang merupakan salah satu minuman kesukaannya. Di kampung kami memang tidak ada yang jualan bajigur, ada juga di kampung sebelah. Namun tidak pernah berjualan ke kampung sini, ia lebih suka jualan ke arah barat mendekati daerah perkotaan.

Tak berselang lama, si emang bajigur segera menyodorkan segelas bajigur pesanan Mang Ajat yang saat itu tengah duduk menunggu di pos ronda.

“Sekalian singkong rebus sama kacang gorengnya mang”, ucap Mang Ajat sambil terus meniupi bajigurnya yang masih panas.

Tak lama kemudian, sepiring singkong rebus dan kacang goreng pun sudah ada di hadapan Mang Ajat. Ia pun segera menyantapnya.

Saat tengah menikmati bajigur panas dan singkong rebus, Mang Ajat melirik ke arah si tukang bajigur, yang saat itu malah terdiam di pinggir jalan di dekat gerobaknya walaupun saat itu sedang hujan.

“Mang, kok malah hujan-hujanan? Sini berteduh di pos ronda bareng saya”, ucap Mang Ajat sambil menyeruput bajigur dan menyantap singkong rebus. Memang nikmat sekali minum bajigur di saat udara dingin.

Namun si emang bajigur tetap saja tidak bergeming, ia terus berdiri terpaku di pinggir jalan tanpa mempedulikan perkataan Mang Ajat.

Kala itu hujan mendadak bertambah lebat, sesekali tampak kilatan cahaya petir di langit yang disusul suara guntur menggelegar. Angin bertiup kencang seiring dengan suara gemuruh air hujan yang semakin deras.

Setengah piring singkong rebus dan setengah gelas bajigur kini sudah berpindah ke perut Mang Ajat. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Namun si tukang bajigur sejak tadi tetap saja berdiri kaku membelakangi Mang Ajat dengan tubuh basah kuyup kehujanan. Karena heran dengan tingkah lakunya yang aneh, Mang Ajat memutuskan untuk melihatnya. Mang Ajat penasaran dengan apa yang dilakukannya sejak tadi.

Mang Ajat kemudian berdiri dan berjalan mendekati si tukang bajigur. Kain sarung warna cokelat yang sudah lusuh, ia gunakan untuk membungkus kepalanya supaya tidak terkena hujan. Sampai…..

Saat Mang Ajat tepat berada di samping tukang bajigur, ia begitu kaget. Jantungnya seakan berheti berdetak saat melihat apa yang sedang dilakukan tukang bajigur tersebut.

TAMPAK JELAS OLEH MANG AJAT, SI TUKANG BAJIGUR ITU SEDANG MEMBERESKAN USUSNYA YANG TERBURAI DARI DALAM PERUTNYA. PERUT SI TUKANG BAJIGUR ITU TERLIHAT SOBEK TAK BERATURAN SEPERTI BEKAS PECAH TERLIDAS SESUATU.

hantu tukang bajigur
Arwah Penasaran Hantu Tukang Bajigur

Belum habis rasa kagetnya Mang Ajat, tiba-tiba si tukang bajigur perlahan menoleh ke arah Mang Ajat yang saat itu masih berdiri melongo tak berkedip. Dan ASTAGA… Mang Ajat melihat dengan jelas wajah si tukang bajigur itu hancur, banyak luka di sana-sini dengan mata sebelah kanannya yang hampir keluar. Karena saking seramnya pemandangan yang dilihat oleh Mang Ajat saat itu, akhirnya Mang Ajat tumbang pingsan di tempat.

*****

Mang Ajat akhirnya sadar karena ada yang menyebut namanya berulang kali, yang ternyata adalah kedua orang teman rondanya, yaitu Mang Hodis dan Mang Mimin yang kala itu sudah berada di sana. Setelah minum segelas air hangat, Mang Ajat lalu menceritakan pengalaman seramnya bertemu hantu tukang bajigur yang baru saja dialaminya. Kedua rekannya pun menyimak dengan seksama.

Setelah itu Mang Mimin yang profesinya adalah tukang ojek, beliau menceritakan bahwa tukang bajigur yang di gerobaknya bertuliskan “BAJIGUR ATENG” itu adalah tukang bajigur yang berasal dari kampung sebelah, namanya Mang Ateng. Beberapa hari yang lalu Mang Ateng mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Beliau tertabrak truk saat sedang melintas jalan bersama gerobak bajigurnya. Tubuhnya terlidas tepat di bagian perutnya. Wajahnya hancur karena jatuh ke jalan dan membentur batu.

Menurut cerita dari warga kampung sebelah, selepas kematian Mang Ateng yang tidak wajar tersebut, banyak warga yang mengalami kejadian mistis bertemu hantu Mang Ateng yang berjualan bajigur pada malam hari. Mungkin arwah Mang Ateng tidak tenang di alam sana, dan terus gentayangan menakuti orang-orang.

Dan sejak kejadian itu, Mang Ajat tidak pernah lagi pergi ngeronda jika tidak ada orang lain di pos ronda. Ia masih trauma setelah bertemu dengan hantu tukang bajigur yang sangat menyeramkan.

***** SEKIAN *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *